21 Jun 2010

HATI-HATI KEPUHUNAN

Di Kaltim ada mitos yang disebut KEPUHUNAN orang kutai biasanya menyebut kepohonan.Kepuhunan ini artinya mendapat celaka atau musibah apabila tidak memakan makanan yang ditawarkan, atau apabila terlupa atau tidak sempat makan sesuatu yang sudah diinginkan atau sudah disiapkan.

Apabila memang gak bisa makan atau gak sempat maka cukuplah mengambil sedikit atau paling tidak menyentuh makanan/tempat dengan jari kemudian menyentuhkannya pada bibir atau tenggorokan. Memakan secuil atau menyentuh makanan ini disebut nyantap.Ini masih sering saya lakukan jika mmng gak sempat untuk makan.bila tidak saya akan ditegur oleh ibu saya atau juga kerabat yg melihatnya.biasannya juga smbil mengucap kata santap santap.

Jika saat menerima tawaran makan dan minum kemudian tidak memakan atau tidak nyantap maka diyakini orang tersebut akan mendapatkan kecelakaan atau musibah, terkadang juga dihubungkan dengan gangguan mahluk halus.ini sudah banyak terjadi di sekitar saya.
makanan yg pantang kita tolak diantaranya adalah Makanan yang diolah dari Ketan dan Nasi Kuning, tetapi secara umum semua makanan/minuman yang ditawarkan kemudian ditolak atau terlupa untuk dimakan bisa menyebabkan Kepuhunan.
Sebagai umat beragama yang mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi kepada manusia adalah atas kehendak Allah SWT terlebih lagi di zaman modern seperti sekarang, tentu Mitos kepuhunan ini sulit diterima secara rasional.
Tanpa melepaskan diri dari keyakinan kepada Allah SWT maka sebagai orang yang berasal dari tanah Kutai, saya menilai mitos ini sebagai nilai-nilai luhur adat budaya masyarakat di kalimantan.
hikmah yg dpt kita ambil dr kepuhunan adanya nilai sosial, kesetiakawanan, sikap ramah dan tata krama kepada sesama manusia, penghargaan terhadap makanan/minuman yang merupakan hasil usaha /jerih payah manusia.
kepuhunan juga mewakili nilai luhur yang mengajarkan tentang keselarasan antar sesama manusia dan antara manusia dengan alam. Tentu saja nilai ini patut untuk dipertahankan dan dilestarikan agar tidak tergerus oleh pergeseran nilai yang terjadi dimasyakarat.

adakah mitos seperti ini di daerah para sahabat?

bontang,kaltim

27 komentar:

  1. wah...gak tau om soal itu...xixixixixi

    BalasHapus
  2. klo di sini masih di percaya smpai skarang den..

    BalasHapus
  3. mun urang etam nyebut nya tu KEMPONAN...bro

    BalasHapus
  4. oke deh om :), dijakarta ada kayak gitu gag yaaaa ??? hm hm

    BalasHapus
  5. Menurutku itu bukan mitos gan.tapi adat.jawa juga pake adat jawa.
    Karena wali songo aja yang mengajak masuk islam secara halus melalui pendekatan adat.

    BalasHapus
  6. Jangan percaya mitos dah

    BalasHapus
  7. Wah mantap wal artikel na...kalo d rumah tiap mw k luar rumah pasti bejapai nasi atau apa aja yg d tawarin kalo mau jalan kata ma2 biar kada ke puhunan...tapi emang nyata y wal

    BalasHapus
  8. Nah, kalau ini di Tenggarong juga ada Om !
    Tapi biarpun saya ngggak nyantap makanan saya nggak celaka juga tuh. Berarti saya nggak kepuhunan. Hehe

    BalasHapus
  9. mohon maaf mengabaikan postingan kaLi ini.

    kondisi Load masih di posisi 87.50, bisa di kurangi dengan cara mengurangi tampiLan postingan di haLaman muka tempLate, caranya:
    kostumisasi/rancangan - pengaturan - format (kurangi jumLah postingan yang dikurangi, misaLnya jadi 3 atau 4).
    saya yakin, dengan dikurangi satu juduL postingan saja (yang ditampiLkan pada haLaman muka) sudah cukup diet tempLate.

    biar tampiLan tempLate kanan-kirinya baLance dengan tengah (keLihatan bagus), "Link sahabat" di buat roLL atau scroLL bisa kunjungi aLamat di bawah ini:

    seperti di bLog saya, pada roLL "Link sahabat"
    http://kurniasepta.blogspot.com/2009/07/membuat-jump-menu-atau-dropdown-menu.html

    atau

    seperti di bLog saya, pada scroLL "banner/Link"
    http://muzzymusthofa.blogspot.com/2010/05/cara-membuat-scroll-pada-komentar.html

    BalasHapus
  10. tahank atas komentarnya...

    BalasHapus
  11. wah aku baru tau nih mitos ini
    tapi menurutku emang sepantasnya lah kita tidak menolak makanan/minuman yang ditwarkan orang, istilahnya kita menghargai yang memberi meski sekedar mencicipi saja.

    selamat berhari senin..
    semoga hari ini menyenangkan.. :)

    baru sempat ngeblog lagi ni, heheu..
    kunjungan baliknya telat deh...

    BalasHapus
  12. kalo tentang mitos" di negara kita ini, saya suka penasaran ingin mencobanya, apalagi klo ada semacam 'pantangan' nya :)

    BalasHapus
  13. oia karena kamu udah komen di postinganku yang PRESCHOOL AWARD jadi tolong diambil y awardnya. yang mana aja terserah kamu. tapi kalo udah dapet semua juga gag apa-apa kalo gag diambil. hehe

    BalasHapus
  14. klo secara adat dan budaya aku ga ikutan deh tapi mungkin maksudnya untuk kita bisa lebih menghargai kali Sob......

    lagian ga ada salahnya kan klo kita ambil, udah ditawarin lagi hhe....

    Semangat N happy blogging Sob...

    BalasHapus
  15. tp kyaknya gak cuma di Kaltim saja. Ortu sy wkt ke KalBar juga harus menerima mkanan yg dihidangkan. Klo tidak katanya bisa mendapat celaka. Baru wkt itu mendengar mitos seperti itu.

    Cerita sedikit. Dulu orang yg dibonceng ayah sy pernah terlempar jatuh kedepan dan akhirnya terdapat bocor dikepala. Pada kemudian harinya si org tersebut bercerita klo dy sebelumnya tidak memakan ap yg disediakan si tuan rumah saat berkunjung. pd wkt itu ayah saya yg berada dibagian depan(nyetir motor) malah tidak ap2, tp yg dibelakang mlh terlempar jatuh. Kejadian itu saat hindarin lobang klo gak salah.

    Bener atau gak, seperti yg OM Etam Grecek bilang itu mitos budaya masyarakat yang ad nilai positifnya. yang lebih penting Kita harus percaya kepada ALLAH SWT.

    BalasHapus
  16. di daerah ku ga da yg kaya gtu pren ....

    BalasHapus
  17. aku kurang tau di tempatku ada ato ga sob
    aku setuju banget tu, terlepas dari keyakinan terhadap Allah tu mengajarkan nilai2 luhur

    BalasHapus
  18. kl dt4 asal sy (babel) istilah ini namanya Kepunan sob, kl u maksudnya sama, bs clka kl pas mau makan/ato minum sesuatu tp ga kesmpean, terutama kl u mnum kopi, hahaa :))

    BalasHapus
  19. sudah sepantasnya setiap pemberian dan hidangan adalah penghormatan tuan rumah terhadap tamunya. Maka sudah sewajarnya tamu memberikan imbal balik penghormatan yang lebih, dan pada akhirnya berujung pada semakin eratnya tali silaturahim

    BalasHapus
  20. Wach kental bgt yach sob adat istiadatnya dan sama kek ditmpt saya,slm knl dari Jawa...:D

    BalasHapus
  21. ditempat sy tidak ada yg namanya kepuhunan kang..
    infonya bagus kang..

    salam kenal dan jangan lupa mampir balik...

    BalasHapus
  22. Kalau di sunda sih istilahnya "pamali" makanan ga dimakan alias mubazir. mungkin hikmahnya jangan menyia-nyiakan rizki kali ya atau seperti bang etam blg menghargai alam yang bermurah hati menyediakan pangan untuk kita.. tulisan yang menarik bang etam :)

    BalasHapus
  23. kepuhunan, banjar jg gt.. trus klo gak sempat makan bilang sempulun smbil megang makanan tersebut trus jari telunjuk tgn diarahkan ke lidah lalu ke leher, itu ajaran adatku,, hehe

    BalasHapus
  24. Saya juga gitu mas, sempet gak sempet mesti harus nyantap dulu biar gak kena musibah/kecelakaan.
    Jadi kangen kampung halaman saya (Tarakan Kal-Tim) :D

    BalasHapus
  25. karena baru di Samarinda (4 blan msh bs dibilang baru ga ya?? :D) sy juga baru dengar kepuhunan di sini. Apalgi klo temen makannya nasi kuning, katanya wajib nyicip.... (kita mah asyik2 aja di suruh nyicvip, apalagi klo lapar :D)
    hehehe....
    Tapi ada baiknya untuk santap makanan yg ditawarkan oleh orang lain dgn alasan untuk menghormati tuan rumah ataupun orang yang menawari, bukan karena kita percaya sesuatu yg buruk akan terjadi kalau menolak.
    lebih waspada dan hati-hati tergelincir ke arah syirik ketika mempercayai hal-hal seperti itu.... :)
    Segala sesuatu hanya terjadi atas izin Allah ^^

    BalasHapus
  26. kami di kalimantan barat juga memiliki mitos yang sama, tapi kami menyebutnya "Kemponan" atau "Kampunan" , dengan makanan yg paling pantang untuk ditolak yang berbahan ketan dan beras serta kopi, kalau tak sempat memakan, kami juga diwajibkan menyentuh makanan/minuman tersebut yang disebut dengan "gamet/palet/jamah", saya kira ini budaya yang baik, dan menjaga kita untuk menghormati orang lain yang telah menawarkan makanan/minuman,

    BalasHapus
  27. alhamdulilah baru tau, terima kasih ilmunya.

    BalasHapus